Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

Merubah Dunia, Mungkinkah?(Kontemplasi)


The Willingness to Change (Hasrat Untuk Berubah)

When I was young and free, and my imagination has no limits,
Ketika aku masih muda, dan bebas untuk berkhayal

I dreamed of changing the world.
Aku bermimpi untuk mengubah dunia

As I grew older and wiser, I discovered the world would not change.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah

So I shortened my sights somewhats,
Maka cita-citaku agak kusederhanakan

And decided to change only my country, But it too seemed immovable.
Dan kuputuskan hanya mengubah negeriku, Namun tampakanya itu pun tidak berhasil

As I grew into twilight years, in one last desperate attempt,
Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa

I settled for changing only my family, Those closet to me,
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku saja, mereka yang paling dekat denganku,

But alas, They would have none of it.
Tetapi celakanya, mereka pun tidak dapat diubah

And now as I lay on my deathbed, I suddenly realized;
Dan kini, sementara aku terbaring saat ajal menjelang, tiba-tiba kusadari,

Rabu, 01 Desember 2010

Bicara Di Depan Umum (Publik Speaking)

Komunikasi merupakan suatu hal yang penting untuk sekelas makhluk hidup cerdas seperti manusia. berawal dari komunikasi manusia dapat saling memahami dan bersosialisi antara sesama. Individualistis yang tertera pada masing-masing manusia pun dapat dicairkan dengan kekurangan atau ingin saling melengkapi yang dihubungkan pada awalnya mungkin oleh komunikasi antar sesama. Komunikasi atau berbicara antar individu dapat menciptakan berbagai hubungan dasar seperti ekonomi, kesehatan maupun politik. 

Berbicara didepan umum (publik Speaking ) dapat menjadikan awal pencitraan yang baik buat pribadi seseorang yang ingin memperoleh tanggapan baik dari pendengar atau teman-temannya. Kunci dalam menguasai komunikasi seperti itu adalah yang pertama adalah sejauh apa mental kita menghadapi situasi pembicaraan yang mungkin bersifat santai atau terlalu resmi. Seperti pidato-pidato politik atau bahkan menjadi pembicara seminar-seminar umum/sains dan lain-lain. 

Berdasarkan pengalaman saya yang masih belajar, ingin menjadi pembicara yang baik dan santai  selalu aja tetap ada awalnya yang namanya dag dig dug di dada. Namun hal itu dapat diatasi dengan berbagai langkah seperti:

Rabu, 10 November 2010

Mengedorkan Otot Pelit

Bencana di negeri kita bisa jadi tidak mungkin di hindari begitu saja dengan mudah, seperti yang kita ketahui Indonesia berada diatas struktur permukaan bumi yang relatif mudah bergerak atau 'batuk-batuk' ya bilang sajalah seperti pergeseran tanah, gempa dan aktivitas vulkanik dari gunung-gunung berapi. 

Sudah lebih dari beberapa minggu ini bencana yang melanda negeri ini, selalu membuat diri ini miris dan merangsang jiwa kerelawanan masing-masing individu bangkit untuk membantu sesama saudara tanah tumpah darah ini. Begitu juga dengan diri ini sesuai dengan kebiasaan sejak mahasiswa dulu selalu melakukan langkah cepat tanggap dengan berupa kepedulian awal mengumpulkan dana donasi atau sumbangan dari kaleng yang berguna menghimpun dana secepat mungkin setelah terjadinya bencana besar (seharusnya pra-bencana harus sudah dilakukan sihh). 

Dana donasi untuk korban bencana ini setidaknya bisa memberikan keringanan proses penanganan dampak bencana. Sumbangan-sumbangan tersebut sebenarnya bisa diberikan langsung ke pihak yang terkait atau dapat dijadikan sebagai dana operasioanal pegiriman relawan-relawan terlatih.

Selasa, 02 November 2010

Vakum terlalu lama membuat malas dan lelet


Ketika suatu hari yang sibuk dan padat kegiatan, sempatnya saya mendapatkan banyak informasi dalam hal dunia menulis. Kesempatan datang ketika senior saya yang berprofesi sebagai editor di salah satu penerbit besar menantang saya atau lebih lengkapnya mengajak saya kembali dalam berkarya melalui dunia kreatif seperti tulis-menulis.

Tanpa rasa ragu juga saya mencoba menanamkan kedalam otak bawah sadar untuk memulai menulis kembali sekecil apapun itu tidak peduli waktu, tempat dan keadaan sesibuk apapun.
Ternyata memang benar kemampuan yang terlalu lama divakumkan secara sengaja/tak sengaja akan berpengaruh kepada ke-bisaan dasar yang telah lama dilatih menjadi lumayan tersendat dan terasa sulit menuangkan ide alias terlalu banyak mikir.

Saya jadi teringat satu prinsip bawah dalam menulis apapun itu, satu ide yang melewati otak kita jangan dianggap remeh atau dicuekin begitu saja. Usahakan "mereka" menari dalam bentuk media pulpen dan kertas, tuangkan secara brutal klo bisa dan ada waktunya melakukan sesi editing atau koreksi menggunakan otak kiri kita.

Sebagai pertemuan kita kembali diawal bulan ini kepada pembaca dan blogger saya ingin mengucapkan selamat menulis dan berkarya kembali. Mohon bantuan motivasinya dan pengetahuannya.

Ref image : http://io9.com

Selasa, 10 Agustus 2010

Belajar Membaca Karakter Dari Tulisan Para Blogger (Sudut Pandang Nan Relatif)

Ternyata seru juga klo kita memang serius tapi santai dalam belajar mengenai sesuatu hal. Seperti mempelajari seluk beluk bakat tidaknya kita dalam menulis. Terkadang kita memang sering mandek atau mogok mengucurkan ide kreatif yang sudah ada di dalam kepala untuk muncul dalam suatu bentuk visual (tulisan, benda, dll) atau verbal (musik, bicara, dll).
Faktor motivasi seseorang dalam mempelajari sesuatu dapat diperoleh dari berbagai macam alasan. Seperti faktor dorongan kebutuhan materi, kepuasaan atau pun penuangan ide yang siap meledak dalam kepala bila tidak di salurkan.